Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

S I S L T P

Sistem Informasi Sumberdaya Lahan dan Tanaman Pertanian

Jurnal Sumberdaya Lahan Vol. 2 No 1, 2008 PDF Print E-mail
Written by Admin   
Wednesday, 04 February 2009 07:47

KARAKTERISTIK TANAH SAWAH DARI ENDAPAN ALUVIALDAN PENGELOLAANNYA

The Characteristics of Rice Soils Derived from Alluvial Deposite and their Management

B.H. Prasetyo1 dan D. Setyorini2
1Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Bogor
2 Balai Penelitian Tanah, Bogor

JSDL_Vol2No1_2008.jpgABSTRAK

Tanah sawah dari endapan aluvial tersebar hampir di seluruh kepulauan Indonesia, karena bahan penyusunnya merupakan hasil pengendapan dari proses-proses erosi maupun pelapukan di daerah hulu sungai atau daerah yang posisinya lebih tinggi, pada jarak jauh maupun dekat. Pada umumnya semakin jauh posisi endapan aluvial dari sumber bahan yang tererosi, sifat dari tanah sawah yang terbentuk akan semakin bervariasi, dan semakin dekat dengan sumber bahan tererosi sifat tanah sawahnya semakin homogen. Kandungan dan jenis mineral mudah lapuk yang merupakan sumber hara penting pada tanah sawah ini dipengaruhi oleh bahan asal dari endapan aluvial. Diantara bahan asal endapan aluvial tersebut, hasil rombakan dari bahan volkan yang bersifat intermediate hingga basis merupakan bahan yang paling banyak menghasilkan hara. Kendala yang banyak dijumpai pada tanah sawah aluvial adalah kemasaman dan miskin kandungan hara atau sumber hara tanah. Pemupukan berimbang yang didasarkan pada uji tanah merupakan cara terbaik mengelola tanah sawah aluvial. Untuk daerah yang sudah mempunyai peta status hara P dan K pada skala 1:50.000, rekomendasi pemupukan hara makro primer dapat mengacu pada peta tersebut, sedangkan untuk daerah yang belum dipetakan harus dilakukan analisis uji tanah. Pengembalian jerami ke petak sawah sangat direkomendasikan karena pengembalian jerami dapat menghemat penggunaan pupuk terutama kalium (K).

Kata kunci : Tanah sawah aluvial, karakteristik, pengelolaan

ABSTRACT

Rice soils derived from alluvial deposite were spread almost in all Indonesian archipelago, due to the fact that the parent materials were resulted from sedimentation processes after erosion or weathering either in the upper course of river or the higher place, from the far or short distance. Generally the more distance of sediment material from the source of erosion or weathering, the more variation in the properties, and the closer of sediment material from the source of erosion or weathering, the more homogeny of the sediment material properties. The content and kind of weatherable mineral which were act as important source of nutrient in the rice soils were influenced by parent materials. Among the parent materials, the sediment from intermediate to basic volcanic materials was the best supplier of nutrients. The most constrain in the alluvial rice soils are acidity and the nutrient content or source of nutrients. A balanced fertilizing based on soil testing is the best way to manage alluvial rice soils. For the area which is already had P and K nutrient status map at 1:50,000 scale, the fertilizing recommendation of primer macro nutrients could be refered to the map, while for the area that do not has a P and K nutrient status, the soil testing analyses should be done. Return straw to the rice field is strongly recommended, because returned straw could be thrifty application of fertilizer, especially kalium (K).

Keywords : Alluvial rice soil, characteristics, management

ASSOCIATION OF SOIL MINERALS AND ORGANIC MATTERAND THEIR IMPACT ON pH0 VALUE

Penyatuan Mineral Tanah dengan Bahan Organik dan Dampaknya pada Nilai pH0 tanah

M. Anda
Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Bogor

ABSTRACT

Clay and organic colloids are two factors that control major, if not all, chemical, physical and biological processes and soil properties but maintaining soil organic matter content under tropical conditions is difficult. The objectives of this review are to explore association between minerals and organic substances, mechanisms underlying the stabilization of soil organic matter, and their implication on pH0 of soil variable charge component. The modes of interaction in clay-humus complexes may occur through anion and ligand exchange to the crystal edges, cation or water bridge to basal surfaces, H-bonding to the siloxane or gibbsite sheet by van der Waals forces attraction (physical bonds), entrapment in crystal pores and intradomain regions, and adsorption in interlayer spaces. Organic matter preservation was related to amount of clay fraction, type of clay mineral present and aggregate formation. High preservation occurs in soils having high clay content, the presence of 2:1 minerals and amorphous minerals (allophane and imogolite), and a larger aggregate size. Current knowledge indicates that the mechanisms of soil organic matter stabilization are: (i) chemical recalcitrance involves elemental composition, the presence of functional groups, and molecular conformation of organic substances against decomposition by microbes and enzymes; (ii) chemical stabilization occurs through adsorption of functional groups to clay mineral surfaces and amorphous sesquioxides; (iii) physical protection involves organic substances being protected by clay fractions in soil pores, especially mesopres (2-50 nm) that limits the accessibility of microbes and enzymes. Soil organic matter is powerful in masking reactive mineral surfaces and generating soil negative charge, which is revealed by the low value of pH0.?Keywords : Organo-mineral association, organic matter preservation, soil pH0

ABSTRAK

Koloid mineral liat dan organik adalah dua faktor utama yang mengendalikan hampir seluruh proses dan sifat kimia, fisika dan biologi tanah tetapi mempertahankan kandungan bahan organik tanah pada daerah tropis adalah sangat sulit. Tujuan dari review ini adalah mengungkapkan penyatuan antara mineral tanah dan bahan organik, mekanisme kestabilan bahan organik dalam tanah dan implikasinya pada nilai pH0 muatan tidak permanen. Modus keterkaitan humus-liat kompleks terjadi melalui pertukaran antara anion dan ligand pada ujung mineral, kation atau molekul air penghubung antar permukaan mineral, ikatan hidrogen pada lapisan siloksan atau gibsit karena daya tarik gaya van der waals, terperangkap dalam pori antar kristal dan daerah antar domain, dan terjerap dalam ruang antar lapisan mineral. Kestabilan bahan organik dalam tanah dapat dihubungkan dengan banyaknya fraksi liat, tipe mineral dan pembentukan agregat. Kestabilan yang tinggi terjadi pada tanah yang berkadar liat tinggi, adanya mineral 2:1 atau mineral amorpus (alofan dan imogolit) dan agregat yang berukuran besar. Mekanisme kestabilan bahan organik dalam tanah, menurut pengetahuan saat ini, adalah (i) rekalsitran secara kimia yang dipengaruhi oleh unsur penyusunnya, adanya grup fungsional, dan konformasi molekul bahan organik menolak dekomposisi berbagai mikroba dan enzim; (ii) stabilisasi secara kimia melalui jerapan grup fungsional pada permukaan mineral liat dan seskuioksida amorf; (iii) proteksi bahan organik secara fisik oleh fraksi liat dalam pori tanah, khususnya pori meso (2-50 nm) yang membatasi aksesibilitas berbagai mikroba dan enzim. Bahan organik tanah mempunyai kemampuan mencolok dalam menyelimuti permukaan mineral tanah yang reaktif dan menciptakan muatan negatif yang ditunjukkan oleh nilai pH0 yang rendah.

Kata kunci : Penyatuan mineral-organik, kestabilan bahan organik, pH0 tanah

PEMANFAATAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN LAHAN GAMBUT EKS PLG KALIMANTAN TENGAH

Utilization and Development Strategy of PLG Peat Land in Central Kalimantan

D.A. Suriadikarta
Balai Penelitian Tanah, BogorABSTRAKLahan rawa di Indonesia cukup luas dan tersebar di tiga pulau besar, yaitu di Sumatera, Kalimantan dan Irian Jaya (Papua). Luas lahan rawa Indonesia ? 33,4 juta ha, yang terdiri atas lahan rawa pasang surut sekitar 20 juta ha dan lahan lebak 13,4 juta ha. Pengembangan lahan rawa harus melalui perencanaan yang matang dan dengan penerapan teknologi yang tepat, terutama dalam pengelolaan tanah dan air. Pembukaan lahan rawa pasang surut bertujuan untuk peningkatan kebutuhan pangan terutama beras, karena terjadinya kerusakan lahan dan berkurangnya lahan subur di Jawa, sehingga perlu pemanfaatan lahan marginal di luar Jawa secara optimal, khususnya pada lahan rawa, karena lahan pertanian yang subur di Jawa setiap tahunnya berkurang luasannya Luas kawasan PLG adalah 1.133.607 ha, yang terdiri atas luas blok A 268.273 ha, blok B 156.409 ha, blok D 138475 ha, dan blok C 570.000 ha. Blok A, B, C, dan D bagian utara termasuk dalam lahan pasang surut air tawar, sedangkan bagian selatan blok D, dan C termasuk lahan pasang surut air laut/payau. Berdasarkan data tersebut di atas maka strategi dalam perencanaan dan pengembangan kawasan PLG ada beberapa aspek yang harus diperhatikan yaitu : 1) perlu adanya tata ruang kawasan pengembangan, 2) gambut dengan ketebalan > 3 m dimanfaatkankan untuk kawasan lindung atau konservasi, 3) lahan gambut yang ketebalan < 3 m untuk kawasan budidaya seperti pertanian, perikanan, perkebunan, dan kehutanan (HTI), dan 4) wilayah yang dilindungi untuk mempertahankan keanekaragaman hayati. Bila kebijakan pemanfaatan lahan ini dilakukan maka akan memudahkan dalam melaksanakan rehabilitasi dan revitalisasi kawasan tersebut. Berdasarkan hasil penelitian yang laksanakan oleh Badan Litbang Pertanian di kawasan PLG tahun 1997 s/d 2000 menunjukan bahwa hasil tanaman padi di lahan sawah dan sayuran, serta buah-buah di pekarangan cukup baik. Kendala utama adalah hama tikus, dan banjir di saat puncak musim hujan. Bila jaringan tata air makro bisa berfungsi dengan baik, hama penyakit dan bajir dapat dikendalikan maka lahan di kawasan ini sangat potensial untuk usaha pertanian, tanaman pangan dan palawija, sayuran, buah-buahan, dan perkebunan. ?Kata kunci : Pemanfaatan, strategi pengembangan, lahan gambut PLG

ABSTRACT

Swampy lands in Indonesia are covering a very large area which are distributed in three main islands i.e. Sumatra, Kalimantan, and Papua. The total areas of swampy lands are 33.4 millions ha, that consist of tidal land areas covering 20 millions ha more or less, and about 13.4 millions ha of non tidal lands. To develop swampy land area need good planning with proper technological application, especially in soil and water management. The objective of opening swampy land areas is to overcome the decreasing of rice productivity of rice field in Java. This is due to landuse? conversion to another function, such as office building, highway, roads, and manufactures. PLG areas consist of four blocks, namely Block A, B, C, and D which covers 268,000 ha, 156,000 ha, 570,000 ha, and 138,000 ha, respectivelly. The strategy for developing? these areas are: 1) To make master plan of PLG areas, 2) The peat land that has a thickness more than 3 meters utilized for conservation areas, 3) The peat land with less than 3 meters thickness will be utilized for developing agriculture, fishery and forestry, 4) Protection areas for developing biodivercity. If those strategies are being conducted, thus the rehabilitation and revitalization of this area will be easily executed. According to the research result conducted by Agency of Agricultural Research and Development during the period of? 1997-2000 in these areas, it is indicated that the soils are very potential for food crops, horticultures, and fruits. The limiting factors of these areas are pest, diseases, and flooding at the peak of rainy season. These areas are very potential for agribusiness such as food crops, vegetable crops, fruits, and estate crops, if macro water management network can be functioned normally and limiting factors can be controlled.

Keywords : Land suitability, development strategy, PLG peat land

POTENSI SUMBERDAYA LAHAN UNTUK PENGEMBANGAN KOMODITAS PERTANIANDI PROVINSI KALIMANTAN BARAT

Land Resource Potential for Agricultural Commodity Development in West Kalimantan Province

Hikmatullah, N. Suharta, dan A. Hidayat

Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, BogorABSTRAKProvinsi Kalimantan Barat dengan luas total 14,64 juta ha telah memiliki informasi data spasial potensi sumberdaya lahan yang merupakan hasil pemetaan tanah tingkat tinjau (skala peta 1:250.000) selama empat tahun (2004-2007). Informasi tersebut dapat dipakai untuk menyusun perencanaan pertanian tingkat provinsi. Wilayah Kalimantan Barat terdiri atas ekosistem lahan basah seluas 3.659.736 ha (24,99%), lahan kering berlereng 15% seluas 6.441.956 ha (44,0%). Penggunaan lahan untuk pertanian di provinsi tersebut baru mencapai 13,8%. Wilayah ini beriklim basah dengan curah hujan rata-rata tahunan berkisar antara 2.663-4.191 mm, dan termasuk zona agroklimat A, B1, dan C. Bahan induk tanah sangat beragam, yang terdiri atas aluvium, bahan organik, batuan sedimen, batuan volkan tua, batuan intrusi, dan batuan metamorfik, yang membentuk tanah-tanah Histosols, Entisols, Inceptisols, Spodosols, Ultisols, dan Oxisols, dengan sifat-sifat yang bervariasi. Hasil analisis potensi sumberdaya lahan untuk arahan pengembangan komoditas pertanian adalah: (a) Lahan intensifikasi padi sawah seluas 221.381 ha, tanaman pangan lahan kering (padi gogo, jagung, kacang-kacangan, umbi-umbian) seluas 173.581 ha, tanaman perkebunan (karet, sawit, kelapa, lada, kopi), termasuk hortikultura buah-buahan seluas 570.266 ha, dan perikanan air payau/tambak seluas 7.394 ha, dan (b) Lahan ekstensifikasi padi sawah seluas 869.133 ha, tanaman pangan lahan kering seluas 1.316.058 ha, tanaman perkebunan (sawit, karet, kelapa, lada, kopi) seluas 4.398.643 ha (30,04%), serta untuk pengembangan tambak seluas 25.437 ha. Tersedianya informasi spasial potensi sumberdaya lahan untuk pengembangan komoditas pertanian yang bernilai ekonomi tinggi, terutama komoditas perkebunan, akan mendukung terbentuknya pusat-pusat pertumbuhan agribisnis dan agroindustri di wilayah tersebut.

Kata kunci : Data spasial, Kalimantan Barat, komoditas pertanian, pemetaan tanah, potensi lahan
?
ABSTRACT

West Kalimantan province with total areas of 14.64 million ha has already had spatial database of land resources at scale of 1:250,000 resulted from reconnaissance soil mapping (2004-2007). This database can be used for composing agricultural planing at province level. The area is composed of wetland ecosystem which covers 3,659,736 ha (24.99%), drylands with 15% slopes covers 6,441,956 ha (44.0%). The coverage of existing landuse for agriculture is only about 13.85% of the total area. In general, the area belongs to wet climate with average annual rainfall varies from 2,663 to 4,191 mm, and belongs to A, B1, and C agroclimatic zones. The area has various kinds of parent materials consisting of alluvium, organic matter deposit, old volcanic rocks, intrusive rocks, sedimentary rocks and metamorphic rocks that formed soil orders of Histosols, Entisols, Inceptisols, Spodosols, Ultisols, and Oxisols, which give variation in their properties. The result of the land resource potential analysis for agricultural commodity development is directed to: (a) land intensification for rice fields covers about 221,381 ha, upland food crops (maize, upland rice, legumes, tuber crops) covers 173,581 ha, annual or estate crops (rubber, oil palms, coconut, pepper, and coffea) including fruit crops covers 570,266 ha, and for brackish fishpond covers 7,394 ha, and (b) land extensification for rice fields covers 869,133 ha, upland food crops 1,316,058 ha, estate crops (oil palm, rubber, coconut, pepper, coffea) covers 3,098,269 ha (as first priority at 15-25% slopes) and 1,300,374 ha (as second priority at 25-40% slopes), and for brackish fishponds covers 25,437 ha. The availability of spatial land resource information to develop high economic value of agricultural commodities, especially estate crops, would support establishing growth centre of agribusiness and agroindustry in the area.?

Keywords : Spatial data, West Kalimantan, agricultral commodity, soil mapping, potential land

STRATEGI PENGELOLAAN LINGKUNGAN PERTANIAN

Agricultural Environmental Management Strategy

Undang Kurnia1 dan N. Sutrisno2
1Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Bogor
2Balai Penelitian Lingkungan Pertanian, Pati

ABSTRAK

Pembangunan di tanah air telah menimbulkan berbagai dampak positif bagi masyarakat melalui terciptanya lapangan kerja baru. Namun, keberhasilan tersebut seringkali menimbulkan berbagai dampak negatif yang merugikan, khususnya terhadap sumberdaya lahan dan lingkungan, serta masyarakat sekitar. Pembangunan kawasan industri di daerah-daerah pertanian produktif menyebabkan berkurangnya luas lahan; pencemaran tanah, air tanah, badan air/sungai; dan terganggunya kenyamanan dan kesehatan manusia dan makhluk hidup lain. Kegiatan pertambangan juga menimbulkan kerusakan sumberdaya lahan dan lingkungan, serta pencemaran akibat digunakannya bahan-bahan kimia dalam proses pemisahan bijih tambang. Demikian juga pembukaan lahan untuk pembangunan infrastruktur (jalan, bangunan, jembatan), dan kegiatan pertanian dapat menyebabkan kerusakan sumberdaya lahan/tanah dan lingkungan, dan pencemaran. Gangguan keseimbangan ekosistem tersebut menyebabkan menurunnya produktivitas lahan/tanah, dan kualitas hasil/produk pertanian akibat tercemarnya sumberdaya tanah, air/badan air dan tanaman. Kondisi ini mengharuskan dilakukannya pengelolaan lingkungan pertanian yang tepat, terarah dan akurat. Oleh sebab itu, identifikasi dan karakterisasi sumber penyebab kerusakan dan pencemaran, serta analisis permasalahan yang terjadi di lapangan merupakan langkah strategis dalam pengelolaan lingkungan pertanian. Pengelolaan lingkungan pertanian akibat menurunnya produktivitas lahan dapat dilakukan melalui penerapan teknik konservasi tanah dan rehabilitasi lahan secara bersama-sama antara pemerintah/instansi terkait, pelaku kerusakan, dan masyarakat. Penanggulangan dan pengendalian pencemaran lahan pertanian oleh unsur-unsur logam berat/B3 memerlukan acuan yang konkrit tentang baku mutu tanah, karena baku mutu logam berat/B3 di dalam tanah yang berlaku untuk kondisi di Indonesia belum ada dan perlu ditetapkan. Ambang batas logam berat/B3 di dalam tanah seharusnya dijadikan acuan untuk melakukan tindakan hukum bagi pelaku pencemaran. Pelaku industri yang membuang limbahnya ke dalam badan air dapat dengan mudah diketahui, karena limbah dari suatu industri sangat spesifik sesuai dengan bahan baku yang digunakan dalam proses produksinya. Selain itu, pengelolaan lahan yang tidak tepat dapat memicu peningkatan gas rumah kaca di atmosfer, sehingga dapat mengakibatkan pemanasan global. Emisi CO2 yang berlebihan dapat dikendalikan atau ditanggulangi melalui pengikatan kembali CO2 (carbonsequistration) melalui penghijauan atau rehabilitasi lahan rusak dan kritis. Emisi CH4 dan N2O dari lahan sawah dapat dikendalikan dengan mengurangi luas areal tanam padi, diantaranya dengan mengistirahatkan sebagian lahan sawah untuk komoditas bukan beras, pengelolaan air yang tepat dan benar, serta penggunaan pupuk N lambat urai.

Kata kunci : Kerusakan lahan, pencemaran, gas rumah kaca, pengelolaan lingkungan pertanian

ABSTRACT

Developments in Indonesia has raised several positif impact for most people due to gaining the new opportunity jobs. However, these positive opportunity often raised negative impact, especially on land resources and the environment, and people surrounding. Development industries on productive agriculture land have decreased agricultural areas, pollution of soil, water bodies/rivers, and cheerfulness and health of people and other humanlife. Mine activities also caused negative impact such as degradation of land resources and environment, and pollution due to the application of chemical matterial on sevaration of mine products. Land clearing for infrastructures construction (roads, buildings, bridges), and agricultural practices had caused land degradation and the environment, and pollution as well. The disturbance of natural resources and environmental imbalance caused the deterioration of soil productivity, and the quality of agricultural yield due to chemical contamination on soil, rivers/water bodies, and crops. These condition has to consider necessary effort on the agricultural and environmental management more precised, directed, and accurated. Therefore, identification and characterization of sources of degradation and pollution, and analyses on issues raised in the field to form strategic effort on agricultural environmental management. The deterioration of soil productivity could be managed by applying soil conservation and land rehabilitation techniques through integrated management of related governments, institutions, and farmers/people. The pollution on soil and plant need quality standard criterium for heavy metals, and the values could be determined and difined for Indonesia condition. Critical levels of heavy metals in the soil could be used as a guide for implementation of law imporcement. Industrial waste which is polluted rivers and water bodies could be easly predicted, due to spesific industry resulted chemical contents of liquid waste similar with content of raw materials. Inappropiate land management could accelerate increasing green house gases in the atmosphere, and would be caused global warming as well. Excessive carbondioxide emission could be controlled by sequistrated CO2 through revegetation and rehabilitation of degraded land. Methane (CH4) and nitrousoxide (N2O) emission from lowland rice could be controlled by reduction its planting areas and substitute by non rice commodites, appropiate and better water management, and slow release nitrogen fertilizer application.
?
Keywords : Land degradation, pollution, green house gases, agricultural environmental management

Versi FullText-nya belum ya....

 
Joomla Templates by JoomlaVision.com